Sejarah Chocolate Silverqueen - Skinsake.Net Berita Online

Sabtu, 24 Oktober 2020

Sejarah Chocolate Silverqueen




SilverQueen adalah salah satu produk cokelat yang cukup terkenal di Indonesia. Didirikan sejak tahun 1950 perusahaan SilverQueen berjalan dibawah naungan PT. Petra Food yang bekerjasama dengan Procter & Gamble yang terkenal juga mengelola Ceres dan Delfi dan berkantor pusat di Singapura.

SilverQueen menjadi produk cokelat nasional yang menjadi penguasa pasar coklat batangan (chocolate bar) di Indonesia. Cokelat satu ini memiliki komposisi bahan yang umum antara lain; kakao massa, lemak kakao, pengemulsi lesitin kedelai, garam, pencita rasa vanila, gula, cashew nut, susu bubuk. Pasar yang menjadi sasaran SilverQueen adalah para remaja. Hal itu uga yang melatarbelakangi terciptanya slogan dari Silver Queen yaitu “Ada Silverqueen Ada Santai”. Memiliki bungkus yang menarik dan praktis membuat cokelat satu ini mudah untuk dibawa saat traveling. Saat ini produk Silverqueen dapat dijumpai hampir di semua minimarket atau swalayan di Indonesia. 

Sejarah Chocolate SilverQueen

Pasti Anda sudah tak asing lagi dengan beberapa produk coklat seperti Delfi, Chunky Ceres, dan Silver Queen sendiri. Ternyata beberapa produk yang tersebut berasal dari perusahaan yang sudah lama.  Produk-produk tersebut diproduksi oleh PT. Petra Food yang berlokasi di Garut, Jawa Barat. Awalnya, perusahaan ini bernama NV Ceres milik orang Belanda yang pada kemudian pada tahun 1942 saat masa pendudukan Jepang di Indonesia, perusahaan ini dijual kepada Ming Chee Chuang yaitu orang Indonesia keturunan Tionghoa. Selanjutnya di tahun 1950, perusahaan ini berubah menjadi PT Perusahaan Industri Ceres.

Ketika Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 di Bandung, Ming Chee Chuang mendapatkan order besar berkat keahliannya dalam mengolah coklat. Mulai dari sinilah Ming Chee Chuang kemudian berpindah tempat produksinya dari Garut ke Bandung. PT. Ceres awalnya hanyalah rumah industri dengan skala kecil dan sederhana. 

Dalam membuat coklat Chuang Sebenarnya tidak ada bahan maupun cara yang istimewa. Hanya mencampurkan kakao, gula dan susu kemudian mengatur temperatur pada alat pemanas coklat sama seperti kebanyakan pabrik yang ada saat itu. Akan tetapi, iklim tropis di Indonesia membuat Chuang mendapatkan ide untuk menghasilkan coklat batangan pertama yang tidak mudah meleleh saat dipasang di toko yaitu dengan cara menambahkan kacang mete pada adonan coklat. Selain faktor iklim, di Indonesia biji kakao memiliki lebih banyak kandungan coklat dibandingkan dengan negara lain dan kandungan minyaknya lebih banyak sehingga cepat meleleh.

Di tahun 1984, John Chuan,  anak sulung dari Ming Chee Chuang mendirikan perusahaan Petra Foods Pte. Ltd. Perusahaan ini mendistribusikan dan memasarkan produk mereka dan berpusat di Singapura. Hasil produk dari Petra Foods juga telah merambah ke sekitar 17 negara di dunia, seperti Jepang, Filipina, Hongkong, Australia, Thailand dan China. Petra Foods juga telah membuka bisnis perkebunan kakao di beberapa Negara penghasil cokelat terbaik seperti Meksiko, Brazil, dan negara-negara di Eropa. Hal itulah yang membuat Perusahaan keluarga Chuang ini menjadi pesaing berat bagi M&M’S coklat yang berasal dari Amerika nomor satu. Sampai saat ini anak cabang Petra Foods telah tersebar di 6 negara dan memiliki jumlah karyawan sebanyak lebih dari 5.838 orang. Pendapatan per tahun dari Petra Foods mencapai US$ 836 juta lebih. Petra Foods sebagai perusahaan pengolah sekaligus distributor bahan baku cokelat terbesar di dunia telah memproduksi aneka produk coklat dalam berbagai varian dan kualitas, dan mampu menjangkau ke semua kalangan mulai dari anak anak, remaja, hingga dewasa mulai dari segmen low class sampai premium.

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda